Rafn83gammelgaard's website

Our website

14
Ja
Pemahaman Aqiqah Menurut Kepercayaan Islam
14.01.2017 05:49


Menurut bahasa ‘Aqiqah artinya: mengotes. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang dengan penyembelihan ini. Ada yang mengatakan jika aqiqah ialah nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada lagi yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang ditemui pada kepala si budak ketika ia keluar mulai rahim pangkal, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, / 21. Jumlahnya 2 upaya untuk momongan laki-laki dan 1 upaya untuk momongan perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak budak tergadaikan beserta aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi seri dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang serupa dan momongan perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih satwa untuknya di dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh menitahkan: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, jadi sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua gelaran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, atas kakeknya, Nabi bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi dipastikan hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan tunggal kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW tahu ber ‘aqiqah untuk Laksmi dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi seri dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak bab 4, sesuatu. 264]

Tanggapan: Hasan & Husain merupakan cucu Rasulullah SAW.

Dari Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Rancak, dia berkata: Rasulullah berfirman: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah itu disembelih dalam hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Patokan Aqiqah Bani adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan mayoritas ulama pandai fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai per kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah ialah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya tahi kotok (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah rodi, namun tak bersifat wajib, karena terselip sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban yakni: “Barangsiapa di antara kalian terselip yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, jadi silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Debu Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan dalil yang menggerakkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu sebagaimana layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh pada aqiqah tersebut hewan yang picak, kurus, patah rangka, dan nyeri. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam hewan aqiqah itu cacat-cacat yang bukan diperbolehkan pada qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami pada masa jahiliyah apabila lengah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumangkan kepalanya beserta darah kibas itu. Jadi setelah Yang mahakuasa mendatangkan Agama islam, kami menyembelih kambing, menjatuhkan (menggundul) oknum si budak dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Bubuk Dawud perkara 3, sesuatu. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang bocah, mereka menggores kapas secara darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur serat si budak mereka mencolekkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW berkata, “Gantilah resam itu secara minyak wangi”.[HR. Putri Hibban beserta tartib Rumpun Balban bab 12, sesuatu. 124]

Kegiatan aqiqah pendapat kesepakatan getah perca ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW berfirman, “Seorang budak terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak pula, maka pada hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Imam Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) buat dasar imbauan, maka takut-takut menyembelih pada hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah sedang. aqiqah murah bandung Karena kepercayaan ajaran Islam adalah mempermudah bukan menyulitkan sebagaimana panduan Allah SWT: “Allah mewujudkan kemudahan bagimu dan tidak menghendaki pertengkaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini berdasarkan sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak tersebut tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan sama At Tirmidzi)

Dan jikalau tidak dapat melaksanakannya pada hari ketujuh, maka siap dilaksanakan dalam hari ke empat belas kasihan, dan apabila tidak sanggup, maka pada hari ke dua puluh satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah atas ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, ke 4 belas, serta ke dua puluh tunggal. ” (Hadits hasan tambo Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga ahad masih tidak mampu oleh sebab itu kapan saja pelaksanaannya di kala sudah mampu, karena pelaksanaan pada hari-hari di tujuh, ke empat belas kasihan dan ke dua persepuluhan satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama sungguh wajib. & boleh pula melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Bayi yang tenang dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun balita yang kelulusan dengan ukuran sudah berusia empat hari di dalam lembaga ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada memfilter si momongan. Namun apabila seseorang yang belum di sembelihkan fauna aqiqah oleh orang tuanya hingga ia besar, jadi dia siap menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan apabila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal ini tidak apa-apa menurut abdi, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahiran. Jika gak bisa, maka pada hari keempat belas kasihan. Dan jika tidak bisa pun, maka saat hari kedua puluh satu. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi muatan ayah.

Tapi demikian, bahwa ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia mampu melakukan aqiqah sendiri dalam saat mantap. Satu tatkala al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menjawab, “Menurutku, apabila ia belum diaqiqahi ketika kecil, dipastikan lebih baik melakukannya sendiri saat gede. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga mereken demikian. Pikir mereka, anak-anak yang sungguh dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang2 tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Jumlah Hewan

Total hewan aqiqah minimal merupakan satu ekor baik untuk laki-laki ataupun pun untuk perempuan, sesuai perkataan Pelerai demam Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan & Husain mono domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Duli Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Aku harus sadar bahwa Rancak dan Husain adalah anak kembar. Menjadi pada satu kelahiran itu disembelih 2 ekor kibas.

Namun yang lebih tertinggi adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 ekor untuk bani perempuan menurut hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengharuskan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor sedia dan daripada anak perempuan satu ekor. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor sedia yang sama dan atas anak cewek satu termuda. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang keturunan

1. Disunnatkan untuk memberikan nama serta mencukur serabut (menggundul) di dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir dalam hari Minggu, ‘aqiqahnya tanggal pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kibas sedang bagi anak dara 1 sudut.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan terhadap orang tua si anak, tapi boleh pun dilakukan per keluarga yang lain (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah tersebut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah Ataupun Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan mono ekor kambing untuk keturunan perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah diberikan kepada tetangga dan melarat miskin pula bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim. Lagi pula jika hal itu dimaksudkan untuk memikat simpatinya & dalam bagan dakwah. Dalilnya adalah nasihat Allah, “Mereka memberi menjarah orang melarat, anak yatim, dan terpidana, dengan sentimen senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada ketika itu merupakan orang-orang kufur. Namun demikian, keluarga pula boleh menandaskan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kibas, tanpa memperlakukan apakah nyali besar atau putri, sebagaimana tambo di bawah ini:

Dari Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia tahu bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka ceramah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kibas dan untuk anak perempuan satu kontrol kambing. Bukan menyusahkanmu elok kambing tersebut jantan maupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan abdi belum meraih dalil lainnya yang menampilkan adanya satwa selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Zaman yang dituntunkan oleh Rasul SAW berdasarkan dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 per kelahiran budak tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Akan halnya dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, dan mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan gak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menyisihkan kerabat serta tetangga untuk menyantap makanan daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada kaum muslimin, dan mampu mengundang sobat-sobat dan nenek untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan seluruhnya. Syaikh Putra Bazz mengatakan: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya / sebagiannya serta memasaknya kemudian mengundang sosok yang engkau lihat terampil diundang daripada kalangan moyang, tetangga, teman-teman seiman serta sebagian sosok faqir untuk menyantapnya, dan hal sedarah dikatakan per Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi kalau ada siratan antara maksud sebuah nama dengan yang diberi sebutan. Hal itu ditunjukan beserta adanya sekitar nash syari yang memproklamasikan hal tersebut.

Dari Serbuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Yang mahakuasa mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam pamor berkaitan dengannya sehingga seumpama makna-makna itu diambil darinya dan bagai nama-nama tersebut diambil daripada makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah itu:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang lawan Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku jawab: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Putra Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa sok keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang baik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang indah yang cukup diberikan adalah nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana bicara beliau: Mulai Jabir Ra dari Rasul SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau memakai kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari segi ajaran Agama islam, silahkan kumpulan:

Memberi Identitas Bayi alias Anak Dengan Islami


Membabat Rambut

Mencukur rambut merupakan anjuran Nabi yang luar biasa baik untuk dilaksanakan saat anak yang baru menyembul pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak tersekat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi nama, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menerangkan bahwa Fatimah menimbang ukuran rambut Lembut dan Husein lalu beliau menyedekahkan galuh seberat serabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan beserta rata; bukan boleh hanya mencukur beberapa kepala serta sebagian yang lain dibiarkan. Tentu saja semakin banyak serat yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar juga sedekahnya.

Ciri Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan nama Allah, akur Allah terimalah (kurban) mulai Muhammad serta keluarga Muhammad serta daripada ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa budak baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Memiliki arti: Aku berlindung untuk budak ini dengan kalimat Tuhan Yang Sempurna dari segala gangguan syaitan dan huru-hara binatang dan gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat melorot bagi segala sesuatu yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari segi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs mempunyai beberapa panduan diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim USA tatkala Yang mahakuasa SWT menyelesaikan putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di aqiqah itu mengandung point perlindungan daripada syaitan yang dapat meniadakan anak yang terlahir itu, dan ini sesuai beserta makna hadits, yang berarti: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Sehingga Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Sang pencipta lebih terjamin dari gangguan syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Hal inilah yang dimaksud sebab Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah adalah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak pada hari rekapitulas. Sebagaimana Kepala Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari menyampaikan Syafaat bagi kedua manusia tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan susunan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud merasai syukur buat karunia yang dianugerahkan Yang mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya sang anak.

5. Aqiqah sebagai sarana membuka rasa gembira dalam menjalankan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukmin yang bakal memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menegakkan ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan masih banyak juga hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah berikut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Adam al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Make your free website at Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!